WartaPendidikan.co.id, NTT, 4 Februari 2026 – Kabar duka menyelimuti Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa laki-laki berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di pohon cengkeh dekat pondok neneknya.

Kejadian yang mengguncang warga setempat ini mengungkap kisah memilukan tentang keterbatasan ekonomi dan kerinduan akan kasih sayang. Polisi yang melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) menemukan sepucuk surat tangan yang ditulis korban untuk ibundanya.

Surat Terakhir yang Identik dengan Buku Tulis Korban

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E. Pissort, mengonfirmasi temuan surat tersebut. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, tulisan tangan pada surat itu dinyatakan identik dengan catatan di buku sekolah korban.

Surat terakhir bocah SD yang bunuh diri untuk ibunya, karena masalah ekonomi.

Berikut ini isi surat YBR kepada ibunya:

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama)

“Penyidik menemukan adanya kecocokan setelah dilakukan pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulisnya,” ujar Benediktus.

Kronologi Penemuan Jenazah

Jasad korban pertama kali ditemukan oleh seorang warga bernama Kornelis Dopo (59) sekitar pukul 11.00 WITA. Saat itu, Kornelis hendak mengikat kerbau di sekitar pondok tempat korban tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun.

Melihat kondisi korban, Kornelis langsung berteriak meminta tolong hingga warga berdatangan dan menghubungi pihak kepolisian.

Beberapa jam sebelumnya, tepatnya pukul 08.00 WITA, saksi Gregorius Kodo (35) dan Rofina Bera (34) sempat berbincang dengan korban di bale-bale bambu depan pondok. Saat ditanya mengapa tidak berangkat ke sekolah, korban menunjukkan gelagat yang tidak biasa.

“Saat ditanya, korban hanya menunduk dan terlihat sedih,” tutur saksi dalam pemeriksaan polisi.

Kisah di Balik Keterbatasan

Ibu korban, MGT (47), menceritakan bahwa malam sebelum kejadian, putranya sempat menginap bersamanya. Pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WITA, ia mengantar korban ke pondok neneknya menggunakan jasa ojek.

Baca juga :  Gubernur Al Haris Sampaikan Pidato Perdana di Sidang Paripurna DPRD Jambi Masa Jabatan 2025–2030

Sebelum berpisah, sang ibu sempat memberikan nasihat agar YBS rajin bersekolah meski kondisi ekonomi keluarga mereka sangat terbatas. Diketahui, ayah korban telah meninggal dunia sejak korban masih dalam kandungan. MGT harus berjuang sendirian menghidupi lima orang anaknya.

“Ibu korban menyampaikan bahwa mencari uang saat ini tidak mudah dan kondisi keluarga serba kekurangan,” ungkap pihak kepolisian merangkum keterangan ibu korban.

Kondisi ekonomi dan kurangnya pendampingan orang tua diduga menjadi beban berat bagi bocah kelas IV SD tersebut. Saat kejadian, nenek korban yang sudah lanjut usia sedang tidak berada di pondok karena tengah mengunjungi tetangga.

____________________________________________________________________________________________

Catatan Redaksi: Depresi dan pikiran untuk mengakhiri hidup bisa menyerang siapa saja. Jika Anda atau orang terdekat memerlukan bantuan, jangan ragu untuk menghubungi layanan kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat, atau menghubungi lembaga konseling psikologi profesional.