WartaPendidikan.co.id, JAKARTA, 9 Februari 2026 – Forum Guru Pendidikan Agama Kristen Indonesia (Forgupaki) memberikan sinyal waspada terkait kondisi pendidikan agama Kristen di wilayah DKI Jakarta. Dalam acara diskusi pendidikan dan syukuran yang digelar di Gedung Graha Kencana, Jakarta Barat, Forgupaki memaparkan data mengkhawatirkan mengenai defisit tenaga pengajar yang kian melebar.

Ketua Umum Forgupaki, Abraham Pellokila, mengungkapkan bahwa ketersediaan Guru Pendidikan Agama Kristen (GPAK) saat ini jauh dari kata ideal. Di wilayah Jakarta Pusat, misalnya, kekurangan guru tingkat SMP mencapai 61%. Angka ini semakin memprihatinkan di jenjang SD yang mencatatkan kekurangan lebih dari 75%.

“Pemenuhan guru agama Kristen harus dilakukan secara bertahap namun konsisten demi hak pendidikan siswa-siswi kita,” tegas Abraham di hadapan para peserta diskusi.

Empat Akar Masalah

Berdasarkan analisis Forgupaki, setidaknya ada empat faktor utama yang menyebabkan krisis tenaga pendidik ini terus berlanjut di ibu kota:

  • Laju Pensiun yang Tinggi: Banyak guru senior memasuki masa purna tugas, namun tidak dibarengi dengan regenerasi atau pengangkatan guru baru yang sepadan.

  • Kuota PPPK Terbatas: Formasi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) khusus untuk guru agama Kristen dinilai masih sangat minim dibandingkan kebutuhan di lapangan.

  • Hambatan Rekrutmen KKI: Belum maksimalnya pembukaan penerimaan guru kontrak (KKI) oleh Pemprov DKI Jakarta untuk mata pelajaran agama Kristen.

  • Masalah Administrasi di Sekolah: Banyak sekolah yang ditemukan belum mengajukan Analisis Jabatan (Anjab) untuk kebutuhan guru agama Kristen secara akurat kepada pemerintah.

Forgupaki berharap pemerintah daerah maupun pusat segera mengambil langkah nyata untuk membenahi “benang kusut” administrasi dan formasi jabatan ini. Tanpa intervensi kebijakan yang serius, hak para siswa untuk mendapatkan pendidikan agama yang layak terancam tidak terpenuhi secara optimal.

Baca juga :  Kolaborasi Budaya: Mahasiswa Universitas Hamzanwadi dan Seniman Korea Hadirkan Musik Tradisional Sasak dalam Nuansa Modern