WartaPendidikan.co.id, SURABAYA, 10 Februari 2026 – Pemandangan berbeda terlihat di lapangan SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya, Senin (9/2/2026). Di antara ratusan siswa kelas XII yang mengenakan kain ihram putih, sosok Engie EN Nana, pelajar pertukaran asal Prancis, tampak khusyuk mengikuti rangkaian ujian praktik manasik haji.
Bagi Engie, momen ini bukan sekadar pemenuhan nilai sekolah, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang tak terlupakan.
Pengalaman Langka yang Tak Ada di Prancis
Engie mengaku sangat terkesan dengan sistem pendidikan di Indonesia, khususnya di Smamda, yang memberikan ruang luas bagi pembelajaran agama. Hal ini, menurutnya, sangat kontras dengan pengalaman pendidikannya di negeri asalnya.
“Acara ini sangat luar biasa. Di Prancis, kami tidak bisa mempelajari hal-hal spesifik tentang agama seperti ini di sekolah. Bagi saya, ini pengalaman yang sangat berharga,” ungkap Engie dengan mata berbinar.
Praktik manasik ini memberinya gambaran nyata tentang rukun Islam kelima yang selama ini hanya ia ketahui secara teori. Pengalaman tersebut ternyata menumbuhkan impian besar dalam dirinya.
“Saya berharap bisa terus konsisten salat setiap hari, dan suatu hari nanti saya ingin pergi ke Mekkah melihat Ka’bah langsung, Insya Allah,” ucapnya penuh keyakinan.
Ujian Komprehensif: Dari Doa hingga Tawaf
Kepala Smamda Surabaya, Mukhlasin ST MPd, menjelaskan bahwa ujian manasik haji ini diikuti oleh 393 siswa kelas XII sebagai bagian dari Ujian Satuan Pendidikan (USP). Penilaian dilakukan secara menyeluruh, meliputi:
-
Penilaian Mandiri: Penguasaan bacaan dan doa-doa secara individu.
-
Penilaian Kelompok: Praktik fisik seperti Tawaf dan Sa’i secara berkelompok untuk menguji kekompakan dan ketepatan tata cara ibadah.
“Harapan kami, anak-anak memiliki bekal pemahaman yang mendalam. Kami ingin mereka siap menyempurnakan rukun Islam di masa depan dengan tata cara yang benar,” jelas Mukhlasin.
Pesan Universal dari Lapangan Sekolah
Kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan agama yang dikemas dengan praktik nyata mampu menyentuh hati siapa saja, melampaui batas negara dan budaya. Kalimat “Insya Allah” yang berkali-kali terucap dari lisan Engie menjadi simbol harapan bahwa langkah kecilnya di lapangan Smamda hari ini akan membawanya menuju tanah suci yang sesungguhnya suatu hari nanti.



Leave a Reply