WartaPendidikan.co.id, 11 Februari 2026-Pendidikan di Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan, mencoba menyatukan dua visi besar: mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing global sekaligus menjalankan mandat moral untuk mencerdaskan seluruh lapisan masyarakat secara adil. Dua model pendidikan—Sekolah Garuda Transformasi yang modern dan Sekolah Rakyatyang inklusif—seharusnya tidak dipandang sebagai dua hal yang bertentangan, melainkan sebagai kekuatan yang saling melengkapi untuk memajukan bangsa.

Perspektif Pembebasan dan Kemandirian

Esensi pendidikan sejati, jika ditinjau dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire, melampaui sekadar kemegahan fasilitas. Fokus utamanya adalah kemerdekaan jiwa dan kesadaran kritis manusia.

  • Tantangan Kodrat Zaman: Sekolah Garuda Transformasi memang menjawab tantangan zaman melalui integrasi teknologi dan standar internasional. Hal ini sejalan dengan aspek intelektualitas dalam Sistem Among.

  • Kritik terhadap Formalisme Mekanis: Namun, kemajuan ini menyimpan risiko jika hanya menjadi sarana transfer data yang kaku. Paulo Freire memperingatkan bahaya “Pendidikan Gaya Bank”, di mana siswa hanya diposisikan sebagai objek pasif yang dipersiapkan demi kepentingan pasar dan industri.

Kesimpulan: Sebuah institusi pendidikan tidak akan benar-benar transformatif jika hanya mengejar efisiensi ekonomi dan prestasi akademik, namun mengabaikan penumbuhan kesadaran kritis dan kemanusiaan siswa.

Baca juga :  Keracunan Massal Program Makan Bergizi Gratis di Muaro Jambi, Puluhan Siswa Dilarikan ke RS