WartaPendidikan.co.id – Pasar logam mulia sedang mengalami guncangan hebat. Harga emas dunia dilaporkan anjlok tajam pada perdagangan

Senin, 2 Februari 2026 pagi waktu Asia, menandai salah satu koreksi terbesar dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Data Bloomberg menunjukkan harga emas di pasar spot sempat tersungkur hingga 4 persen di awal perdagangan. Pada pukul 07.16 waktu Singapura, emas bertengger di level US$ 2.742,73 per ons, turun 3,2 persen. Tak hanya emas, harga perak pun “berdarah-darah” dengan merosot 7,7 persen ke level US$ 28,64 per ons.

Faktor Utama: “Efek Warsh” dan Dolar yang Perkasa

Penurunan tajam ini dipicu oleh manuver politik Presiden AS Donald Trump. Pada Jumat (30/1/2026), Trump resmi mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed).

Warsh dikenal oleh pasar sebagai sosok yang sangat tegas terhadap inflasi (hawkish). Ekspektasi bahwa The Fed akan menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat di bawah kepemimpinan Warsh langsung memicu reli penguatan Dolar AS. Karena emas dihargai dalam dolar, penguatan mata uang “Greenback” otomatis membuat logam mulia menjadi lebih mahal dan kurang menarik bagi investor global.

Pasar Mulai “Jenuh” Setelah Reli Panjang

Analis independen dan mantan trader JPMorgan, Robert Gottlieb, menilai koreksi ini adalah titik balik dari kondisi pasar yang sebelumnya terlalu padat dengan posisi beli (long position).

Sepanjang 2025 hingga Januari 2026, harga emas memang terus mencetak rekor akibat ketegangan geopolitik. Namun, saat sentimen berbalik, terjadi aksi jual masal (sell-off) yang tak terhindarkan.

“Pasar tengah mencari titik keseimbangan baru setelah reli yang dianggap sudah berlebihan,” ungkap Gottlieb.

Volatilitas Tinggi dan Risiko Trader

Tekanan jual semakin diperparah oleh mekanisme pasar. Goldman Sachs mencatat bahwa kenaikan harga emas sebelumnya didorong oleh pembelian opsi beli (call option) dalam jumlah rekor. Ketika harga mulai turun, para spekulan terpaksa melepas posisi mereka untuk membatasi kerugian, yang justru mempercepat kejatuhan harga secara mekanis.

Baca juga :  Aston Jambi Hadirkan Kemewahan dan Tradisi Tionghoa Saat Perayaan Imlek 2025

Kini, para pelaku pasar emas di seluruh dunia, termasuk Indonesia, bersiap menghadapi volatilitas tinggi yang diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan seiring penyesuaian pasar terhadap calon bos baru The Fed.