WartaPendidikan.co.id, Bandung, 05 Mei 2025 – Mahasiswa Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung (PWK ITB) angkatan 2024, M. Fairuz Tsany, berhasil mengukir prestasi membanggakan di kancah nasional. Ia meraih juara ketiga dalam ajang bergengsi ESRI Young Scholar Award (EYSA) 2025, bersaing dengan peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sarjana hingga doktoral.
Fairuz tampil sebagai finalis di Fairmont Hotel Jakarta pada Kamis (10/4/2025) dengan membawakan karya inovatif berjudul “Commuting to Well-Being: Mental Health Measurement & Support.” Proyek ini menyoroti isu yang kerap terabaikan: tekanan mental yang dialami para pengguna KRL di wilayah Jabodetabek.
“Saya tertarik mengikuti EYSA 2025 karena ingin mengangkat hasil proyek penelitian saya sebagai bentuk kepedulian terhadap stres yang dialami pengguna KRL, terutama mereka yang harus berjuang setiap hari menembus padatnya perjalanan untuk bekerja atau sekolah,” ungkap Fairuz.
Berangkat dari pengalamannya sendiri sebagai pengguna KRL selama satu tahun bekerja di Jakarta, Fairuz menganalisis korelasi antara durasi perjalanan dan tingkat stres. Hasil temuannya menunjukkan bahwa semakin lama waktu tempuh, semakin menurun pula kualitas hidup komuter.
Lebih jauh, ia menemukan bahwa mayoritas pengguna yang mengalami stres tidak mencari bantuan profesional. Alasannya beragam, mulai dari anggapan bahwa stres adalah hal biasa, adanya stigma negatif terhadap layanan psikologis, hingga rendahnya literasi masyarakat tentang kesehatan mental.
Sebagai solusi, Fairuz menciptakan sebuah platform WebGIS berbasis aplikasi ESRI yang menyajikan pemetaan lokasi layanan psikologi terpercaya dan terdekat. Tujuannya adalah mempermudah akses masyarakat terhadap bantuan yang cepat dan tepat.
Dalam proses pengembangan, Fairuz memulai dari identifikasi masalah, pengumpulan dan analisis data, hingga visualisasi informasi dalam platform interaktif. Ia mengaku bahwa kunci utama kesuksesannya adalah konsistensi, bahkan di tengah libur, tugas kuliah, dan penyusunan tesis magister.
“Strategi saya sebenarnya sederhana: terus berusaha untuk tetap disiplin dan progres, meskipun sedang libur atau di tengah-tengah kesibukan akademik,” jelasnya.
Tantangan terberat yang dihadapi Fairuz adalah mengatur waktu secara konsisten. Namun, dengan komitmen tinggi, ia menyelesaikan proyek ini secara bertahap dan terstruktur.
Sebagai penutup, Fairuz menyampaikan pesan inspiratif kepada mahasiswa lain yang ingin mengikuti kompetisi serupa:
“Tetap semangat selama proses pengerjaan, fokuslah pada permasalahan yang benar-benar ingin diselesaikan, dan pikirkan manfaat nyata yang bisa diberikan kepada masyarakat.” (Amelia)



Leave a Reply