WartaPendidikan.co.id, Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara terkait kasus dugaan pencabulan massal yang dilakukan oknum kiai terhadap puluhan santriwati di sebuah pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah. MUI mengutuk keras aksi tersebut dan mendesak adanya pengawasan ekstra ketat terhadap institusi pendidikan berbasis agama.
Wakil Ketua Umum MUI menilai tindakan oknum tersebut telah mencederai martabat pesantren dan mencoreng citra pendidikan Islam di mata publik. Ia menegaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan kejahatan luar biasa yang harus dihukum berat.
“MUI sangat prihatin dan mengutuk keras kejadian di Pati. Ini adalah pengkhianatan terhadap amanah orang tua dan nilai-nilai luhur agama. Pelakunya harus ditindak tegas tanpa ampun!” ujar perwakilan MUI dalam keterangannya.
Desak Audit dan Pengawasan Melekat Belajar dari kasus ini, MUI mendesak Kementerian Agama (Kemenag) untuk tidak hanya sekadar memberikan izin operasional, tetapi juga melakukan pengawasan melekat secara berkala. MUI menyarankan adanya mekanisme audit internal terkait aspek perlindungan santri di setiap pesantren.
“Jangan sampai ada ruang gelap di dalam pesantren yang luput dari pengawasan. Pengurus pesantren harus terbuka dan memiliki sistem pengaduan yang menjamin keamanan korban,” tegasnya.
Minta Masyarakat Tetap Tenang Meski mengecam keras oknum tersebut, MUI meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak menyamaratakan semua pesantren. Menurutnya, masih banyak ribuan pesantren yang menjalankan fungsinya dengan baik sebagai pencetak generasi berakhlak.
“Ini adalah ulah oknum. Kita dukung langkah Polri untuk mengusut tuntas. Namun, kami juga meminta masyarakat untuk tetap mempercayakan anak-anaknya di pesantren yang memiliki rekam jejak jelas dan kredibel,” tambahnya.
Dukungan untuk Korban MUI juga mendorong agar para korban diberikan pendampingan maksimal, baik dari sisi hukum maupun psikis. Pihaknya mendukung langkah Kemenag yang telah memindahkan para santri ke tempat yang lebih aman guna melanjutkan pendidikan mereka.
“Prioritas utama adalah pemulihan trauma para santriwati. Mereka adalah korban yang harus kita lindungi masa depannya,” pungkasnya.
Sebelumnya, publik digemparkan dengan kabar penggerebekan dan penangkapan oknum pengasuh ponpes di Pati yang diduga mencabuli hingga 50 santriwati. Kasus ini kini tengah ditangani secara intensif oleh Polda Jawa Tengah.



Leave a Reply