WartaPendidikan.co.id, JAWA BARAT, 10 Februari 2026 – Gebrakan besar terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Dalam Konsolidasi Nasional (Konsolnas) 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengumumkan akselerasi masif untuk meningkatkan kualitas sekolah sekaligus kesejahteraan pendidik di seluruh penjuru negeri.
Tidak tanggung-tanggung, pemerintah memasang target ambisius untuk tahun 2026, mulai dari perbaikan fisik sekolah hingga digitalisasi pembelajaran tingkat tinggi.
Kesejahteraan Guru: Tunjangan dan Insentif Meroket
Salah satu poin yang paling mencuri perhatian adalah komitmen pemerintah dalam menyejahterakan guru non-ASN. Mulai tahun 2026, terdapat kenaikan signifikan pada pos bantuan tunjangan:
-
Tunjangan Sertifikasi Guru Non-ASN: Naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan.
-
Insentif Guru Non-ASN: Meningkat menjadi Rp400 ribu per bulan.
-
Subsidi Upah: Disalurkan kepada lebih dari 253 ribu guru non-ASN di sektor PAUD nonformal.
“Kami berupaya agar kesejahteraan guru semakin baik karena guru adalah kunci utama mutu pendidikan,” tegas Menteri Mu’ti di PPSDM Kemendikdasmen, Senin (9/2/2026).
Revitalisasi 60 Ribu Sekolah & Kelas Masa Depan
Melanjutkan kesuksesan tahun sebelumnya yang berhasil memperbaiki 16.167 sekolah dengan anggaran Rp16,9 triliun, tahun ini sasaran diperluas secara fantastis.
-
Target Baru: Revitalisasi menyasar 60.000 satuan pendidikan.
-
Digitalisasi: Setiap sekolah secara bertahap akan dibekali 3 unit Interactive Flat Panel (IFP) atau layar sentuh digital untuk mendukung metode deep learning (pembelajaran mendalam).
-
Ekonomi Lokal: Program ini menggunakan sistem swakelola, sehingga pengerjaannya turut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar sekolah.
Bukan Skor, Tapi Karakter: Tes Akademik dan Gerakan 7 Kebiasaan
Menteri Mu’ti juga menyinggung Transformasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang telah diikuti 3,48 juta siswa. Ia menegaskan bahwa TKA tahun ini bukan untuk ajang pamer skor atau ranking.
“Hasil TKA menjadi bahan refleksi dan perbaikan proses pembelajaran, bukan untuk pemeringkatan,” jelasnya.
Selain itu, penguatan karakter dilakukan melalui Gerakan Tujuh Kebiasaan Indonesia Hebat, yang mengajak siswa disiplin bangun pagi, beribadah, makan sehat, hingga tidur cepat. Hingga kini, lebih dari 170 ribu sekolah telah menerapkan kebiasaan ini.
Dukungan Penuh Legislatif
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyatakan dukungan total atas konsolidasi ini. Menurutnya, pendidikan adalah “kerja keroyokan” yang tidak bisa dilakukan pemerintah pusat saja.
“Pendidikan butuh partisipasi bermakna dari daerah dan mitra pembangunan. Kami di DPR berkomitmen mengawal dana mandatori pendidikan agar benar-benar sampai ke kelas-kelas,” ujar Hetifah.
Konsolidasi yang berlangsung selama tiga hari ini juga mulai membahas kurikulum masa depan, termasuk pengenalan coding dan Kecerdasan Artifisial (AI) sejak dini.



Leave a Reply