WartaPendidikan.co.id, Jakarta – Kementerian Sosial (Kemensos) RI terus mencari formula efektif untuk memutus rantai kemiskinan yang membelenggu keluarga rentan di Indonesia. Salah satu langkah strategis yang kini didorong adalah melalui penguatan gerakan infak pendidikan sebagai motor penggerak kesejahteraan.

Kemensos meyakini bahwa bantuan sosial (bansos) saja tidak cukup untuk mengubah nasib seseorang secara permanen. Pendidikan dipandang sebagai “jalan tol” paling efektif bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk keluar dari jerat kemiskinan ekstrem dan memperbaiki taraf hidup keluarga di masa depan.

Dalam keterangannya, pihak Kemensos mendorong kolaborasi masif antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga filantropi Islam untuk menggalakkan gerakan infak yang dikhususkan bagi dana pendidikan.

“Pendidikan adalah kunci. Dengan mendorong gerakan infak pendidikan, kita tidak hanya memberikan ikan, tapi juga kail agar generasi mendatang bisa memutus rantai kemiskinan yang turun-temurun,” tulis Kemensos dalam keterangannya, Jumat (10/4/2026).

Optimalisasi Potensi Filantropi Gerakan ini bertujuan untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki kemampuan finansial lebih untuk disalurkan kepada siswa-siswi yang terancam putus sekolah. Dana infak ini nantinya akan dialokasikan untuk biaya operasional pendidikan, beasiswa, hingga penguatan fasilitas belajar di daerah-daerah terpencil.

Kemensos menilai potensi filantropi di Indonesia sangat besar, terutama mengingat predikat Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia. Jika potensi ini dikelola secara profesional dan transparan, masalah biaya pendidikan bagi warga miskin bisa teratasi dengan lebih cepat.

Investasi Jangka Panjang Lebih lanjut, Kemensos menekankan bahwa investasi di bidang pendidikan melalui infak adalah bentuk nyata dari gotong royong nasional. Anak-anak yang mendapatkan akses pendidikan berkualitas diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi baru di lingkungan mereka.

Baca juga :  Demi Masa Depan, Ratusan Siswa SMPN 1 Afulu di Daerah Terpencil Rela Jalan Kaki 10 KM untuk TKA Online

“Kita ingin anak-anak KPM (Keluarga Penerima Manfaat) memiliki daya saing. Jangan sampai kemiskinan menjadi warisan. Lewat pendidikan, mereka bisa menjadi pengusaha, profesional, atau ahli di bidangnya masing-masing,” tambah keterangan tersebut.

Kemensos juga berencana menggandeng lembaga zakat dan wakaf (Baznas/Lembaga Amil Zakat) untuk memastikan penyaluran dana infak ini tepat sasaran. Melalui integrasi data Kemensos (DTKS), diharapkan bantuan pendidikan ini benar-benar jatuh ke tangan mereka yang paling membutuhkan.

Melalui gerakan ini, Kemensos optimis target penurunan angka kemiskinan ekstrem di Indonesia dapat tercapai lebih cepat, sekaligus menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia melalui akses pendidikan yang merata.