WartaPendidikan.co.id, BANDUNG BARAT, 18 Februari 2026 – Tabir gelap kasus kematian tragis Z (13), siswa SMP asal Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, akhirnya tersingkap. Aparat kepolisian resmi mengamankan dua tersangka, YA (16) dan AP (17), yang merupakan rekan sekampung korban.
Jasad remaja kelahiran 2012 tersebut ditemukan dalam kondisi memilukan di kawasan eks Kampung Gajah, Kabupaten Bandung Barat, pada Jumat (13/2) malam, setelah dilaporkan hilang sejak awal pekan.
Hasil Autopsi: Kekerasan Sangat Brutal
Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra, membeberkan fakta mengerikan di balik kematian korban. Berdasarkan hasil autopsi tim medis, Z menjadi korban kekejaman yang sangat brutal.
“Ditemukan setidaknya delapan luka tusukan senjata tajam pada bagian perut korban. Selain itu, terdapat trauma hebat di bagian kepala akibat hantaman benda tumpul,” ungkap AKBP Niko.
Firasat Keluarga dan Pengaruh Buruk Pelaku
Kepergian Z menyisakan luka mendalam bagi keluarga, terutama karena kecurigaan terhadap tersangka YA sudah ada sejak awal. Perwakilan keluarga, Undang Supriatna, menyebut bahwa keluarga telah lama mencium pengaruh buruk YA terhadap Z sejak mereka masih duduk di bangku SD.
Berbagai upaya dilakukan keluarga untuk melindungi Z, termasuk memindahkan sekolahnya ke Kota Bandung demi memutus komunikasi dengan YA. Namun, YA dilaporkan tetap gigih mengejar dan menemui korban hingga akhirnya peristiwa tragis ini terjadi.
Rekam Jejak Para Pelaku
Identitas kedua pelaku kini menjadi sorotan tajam warga desa asal mereka. Kepala Desa setempat, Uce Saepurohman, mengaku terkejut atas tindakan sadis warganya.
-
YA (16): Dikenal memiliki catatan disiplin yang buruk di sekolah. Ia sempat dikeluarkan (DO) selama satu tahun sebelum akhirnya kembali bersekolah.
-
AP (17): Remaja yang sudah putus sekolah dan sehari-hari bekerja serabutan sebagai buruh kasar serta pembantu jasa dekorasi pernikahan.
Kisah Pilu Sang Yatim Piatu
Sosok Z dikenal sebagai anak yang memiliki latar belakang hidup cukup berat. Ia telah kehilangan ibu kandungnya (piatu) sejak kelas 4 SD. Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, ia sempat berpindah-pindah antara Garut dan Bandung demi mencari lingkungan yang lebih baik setelah sang ibu wafat.
Ironisnya, usaha keluarga untuk menjauhkannya dari lingkungan yang salah justru berakhir tragis di tangan teman sepermainannya sendiri. Kini, kedua pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan hukum dengan ancaman hukuman berat.



Leave a Reply