WartaPendidikan.co.id,19 Februari 2026-Pendidikan adalah instrumen vital dalam mencetak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sekaligus menjaga keberlanjutan peradaban. Di Aceh, tantangan ini menjadi kian kompleks setelah rentetan bencana hidrometeorologi—seperti banjir dan tanah longsor—yang tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengguncang stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Menghadapi situasi ini, konsep Tripusat Pendidikan gagasan Ki Hajar Dewantara—yang menekankan kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat—menjadi solusi yang sangat relevan untuk diimplementasikan kembali.

Revitalisasi Peran Keluarga sebagai Madrasah Utama

Dalam bingkai kearifan lokal dan Syariat Islam di Aceh, keluarga bukan sekadar unit terkecil masyarakat, melainkan madrasah pertama bagi anak. Namun, realitanya pasca-bencana:

  • Tekanan Ekonomi & Psikologis: Kehilangan harta benda dan trauma seringkali mengalihkan fokus orang tua dari pendidikan anak.

  • Kerapuhan Fondasi: Jika fungsi keluarga melemah, maka penanaman nilai iman dan akhlak anak akan terancam.

Strategi Penguatan dan Solusi

Untuk menjaga agar fondasi pendidikan tidak runtuh, diperlukan langkah sistematis dari berbagai pihak:

  1. Dukungan Pemerintah: Penyediaan jaminan sosial, bantuan pendidikan, serta layanan pemulihan trauma bagi keluarga terdampak.

  2. Ketahanan Keluarga: Program parenting Islami dan pendampingan psikososial untuk membangun ketangguhan mental orang tua.

  3. Peran Tokoh Agama & Akademisi: Melalui pengajian dan bimbingan edukatif, nilai-nilai kesabaran dan ketangguhan harus terus disosialisasikan secara kontekstual.

Pendidikan di Aceh tidak boleh terhenti karena bencana. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan peran aktif mahasiswa, kita dapat memastikan bahwa fungsi edukasi tetap berjalan optimal meski di tengah keterbatasan.

Baca juga :  Grand Final Lomba Lari Balok PAUD se-Kota Jambi Berakhir, Pemenang Terima Piala dari Walikota Jambi