WartaPendidikan.co.id, SEMARANG, 20 Februari 2026 – Bagaimana seorang mahasiswa asing menaklukkan culture shock di jantung budaya Jawa? Bagaimana pula sistem pendidikan tetap bernapas di tengah keruntuhan politik? Pertanyaan-pertanyaan krusial ini menjadi ruh dalam gelaran FIPP International Forum 2026 yang berlangsung di Aula Dekanat Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Meski bertepatan dengan hari pertama Ramadan 1447 H dan kebijakan Work From Anywhere (WFA) di lingkungan kampus, atmosfer akademik tetap terasa hangat. Perwakilan dari Kirgistan, Myanmar, Gambia, hingga Indonesia berkumpul untuk merumuskan arah pendidikan dan psikologi abad ke-21.
Visi Mendunia di Tengah Ramadan
Dekan FIPP UNNES, Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Si., menegaskan bahwa diskusi lintas negara ini bukan sekadar rutinitas, melainkan pengejawantahan visi UNNES sebagai pelopor kecemerlangan pendidikan bereputasi dunia.
“Kolaborasi internasional melalui student exchange dan temu akademik lintas negara adalah upaya nyata untuk membuka cakrawala wawasan mahasiswa,” ujar Prof. Edy dalam sambutannya.
Forum ini juga mempertegas komitmen FIPP UNNES terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 (Pendidikan Inklusif) dan ke-5 (Kesetaraan Gender).
Dari Kecerdasan Budaya hingga Resiliensi Myanmar
Diskusi dibuka oleh Nurtilek Kadyrov, mahasiswa S3 asal Kirgistan yang telah menetap 11 tahun di Indonesia. Ia memperkenalkan konsep Cultural Intelligence (CQ). Bagi Nurtilek, beradaptasi di lingkungan baru bukan sekadar soal fasih berbahasa, melainkan sebuah negosiasi psikologis.
Sementara itu, kisah heroik datang dari Hsu Nandar Myint, mahasiswi S2 asal Myanmar. Ia memaparkan bagaimana pendidikan di negaranya terpaksa bertransformasi total akibat krisis politik pasca-2021.
-
Solusi: Penggunaan low-technology.
-
Strategi: Pendidikan berbasis komunitas.
-
Pesan: Pendidikan harus tetap berjalan meski dalam keterbatasan total.
Dilema AI: “Ilusi Pemahaman” yang Mengancam
Isu teknologi dan kesehatan mental menjadi sorotan tajam di sesi berikutnya. Mafu Ceesay, mahasiswa asal Gambia, mendorong literasi data dan coding sebagai standar logika baru. Namun, nada peringatan datang dari Annisa Denti Papita terkait penggunaan Artificial Intelligence (AI).
Ia menyoroti fenomena “Illusion of Understanding” atau Ilusi Pemahaman:
-
Penyebab: Kemudahan akses informasi instan via AI.
-
Dampak: Mahasiswa merasa sudah paham, padahal kemampuan analisis kritisnya mendangkal.
Dari sisi psikologi, Jenyes Intan Sururoh menekankan pentingnya otonomi diri di era media sosial, sementara Shelma Rania Putri Nugroho membedah hambatan norma gender yang masih menekan efikasi diri perempuan dalam dunia kerja dan pendidikan.



Leave a Reply