WartaPendidikan.co.id, 19 Februari 2026-Dalam acara Executive Workshop SEVIMA yang digelar di Rumah Perubahan, Jakarta, Profesor Rhenald Kasali menyoroti pergeseran fundamental dalam dunia pendidikan akibat kehadiran kecerdasan buatan (AI). Guru Besar FEB UI ini menegaskan bahwa era di mana dosen menjadi otoritas tunggal atas ilmu pengetahuan telah berakhir.

“Sekarang, dosen bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. GenZ sudah punya orang cerdas kepercayaan di sini. Dia lebih percaya yang disini. AI bisa menjelaskan lintas disiplin. Jadi kalau kita tidak melakukan apapun, AI sudah siap menghancurkan monopoli pengetahuan dari dosen,” ujar Rhenald dalam Executive Workshop SEVIMA, Kamis (12/2/2026).

Meski demikian, fenomena ini dipandang sebagai momentum bagi perguruan tinggi untuk berevolusi. Alih-alih hanya fokus pada transfer materi, kampus kini dituntut untuk lebih fokus pada pengembangan karakter dan potensi unik setiap individu. Acara ini dihadiri oleh ratusan pimpinan perguruan tinggi serta didukung oleh berbagai pejabat negara, mulai dari Wakil Presiden RI hingga jajaran menteri secara hibrida.

CEO SEVIMA, Sugianto Halim, memaparkan data kritis mengenai kondisi pendidikan tinggi di Indonesia. Ia menyoroti stagnasi Angka Partisipasi Kasar (APK) yang masih jauh dari target Indonesia Emas 2045.

“Kalau kita lihat, tiga puluhan persen itu sudah stagnan hampir delapan tahun. Untuk bisa naik ke 60 persen, kita harus tumbuh secara eksponensial. Ini bukan masalah gengsi, ini masalah daya saing bangsa,” kata Halim.

Ketimpangan akses pendidikan juga menjadi sorotan tajam, di mana terdapat jurang lebar antara wilayah seperti Yogyakarta dengan Papua Pegunungan. Halim juga memperingatkan fenomena kelompok NEET (anak muda yang tidak bersekolah maupun bekerja) yang jumlahnya mencapai 9,9 juta orang—setara dengan jumlah mahasiswa aktif saat ini.

“Anak-anak Indonesia punya mimpi yang sama, tapi akses mereka terhadap pendidikan berbeda jauh. Ini PR kita bersama,” ungkap Halim.

Implementasi OBE dan Kesiapan SDM Digital

Menanggapi tantangan tersebut, Dr. Henri Togar H. T. dari LLDIKTI Wilayah III menekankan pentingnya kurikulum Outcome Based Education (OBE) sebagai kompas dalam pemanfaatan AI agar memberikan dampak nyata pada kompetensi lulusan.

“OBE memastikan bahwa teknologi tidak digunakan sekadar sebagai alat bantu, tetapi benar-benar mendukung pencapaian kompetensi yang dibutuhkan lulusan. Mahasiswa tidak lagi hanya diajarkan memahami konsep algoritma, tetapi diarahkan untuk menganalisis permasalahan data, mengolah data secara bertanggung jawab, dan mengambil keputusan berbasis data,” jelas Henri.

Henri menambahkan bahwa AI dapat mengoptimalkan tiga fase pembelajaran: perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Tantangan besar lainnya adalah ketersediaan talenta digital. Di tengah kebutuhan jutaan tenaga kerja IT pada 2030, nyatanya baru ada dua kampus swasta di wilayah Jakarta yang memiliki program studi spesifik AI, yang mana seluruhnya masih dalam tahap awal sejak dibuka tahun 2024.

Baca juga :  Semarak Sastra 2025 UNJA: Memperkuat Eksistensi Bahasa dan Sastra di Era Kecerdasan Buatan