WARTAPENDIDIKAN.CO.ID, JAMBI – Universitas Jambi (UNJA) mendorong peningkatan literasi dan kompetensi kecerdasan buatan (AI) di kalangan guru Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) Yayasan Ash Shiddiiqi Jambi melalui pelatihan pemanfaatan Gemini AI, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut digelar untuk menjawab tantangan yang dihadapi para pendidik, khususnya masih rendahnya literasi AI serta keterbatasan keterampilan dalam mengembangkan bahan ajar yang interaktif dan inovatif.

Program ini dilaksanakan oleh tim dari Program Studi Sistem Informasi dan Program Studi Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Jambi. Tim tersebut terdiri dari Tri Suranto, Ulfa Khaira, Muhammad Razi A, Zainil Abidin, Ari Andrianti, Miranty Yudistira, Hamzah Alghifari, Mohamad Ilhami dan Mauladi.

Pelatihan dirancang tidak hanya memberikan pemahaman teori, tetapi juga mengutamakan praktik langsung atau hands-on learning. Para guru diperkenalkan dengan konsep dasar AI, fitur Gemini AI, teknik menyusun prompt, hingga praktik membuat perangkat dan media pembelajaran.

Sebelum pelatihan, tim pengabdian melakukan koordinasi dan survei bersama Yayasan Ash Shiddiiqi Jambi, kepala sekolah serta para guru untuk mengidentifikasi kebutuhan dan kendala yang dihadapi. Salah satu persoalan yang ditemukan adalah ketergantungan guru terhadap penyusunan bahan ajar secara manual yang membutuhkan waktu cukup lama dan menghasilkan materi yang kurang variatif.

Dalam pelatihan, guru dibimbing menggunakan formula prompt berbasis Role, Context, Task, Format (RCTF). Teknik tersebut digunakan agar perintah yang diberikan kepada AI lebih spesifik dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik membuat RPPH/RPP menggunakan Gemini AI. Para guru juga berlatih membuat cerita edukatif, kuis interaktif, serta Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Setiap peserta diarahkan menghasilkan sedikitnya satu draf RPPH/RPP dan satu purwarupa media pembelajaran.

Baca juga :  Perkuat Karakter Islami, Pemkab Aceh Besar Wajibkan Program 'Beut Kitab Bak Sikula' di Seluruh SD dan SMP

Tim juga memperkenalkan sejumlah fitur pendukung seperti NotebookLM dan Canvas. Guru diberikan pemahaman mengenai pentingnya melakukan pemeriksaan kembali terhadap hasil yang dibuat AI, termasuk memastikan akurasi informasi serta menyesuaikannya dengan kebutuhan pembelajaran.

Nilai Evaluasi Guru Meningkat

Efektivitas pelatihan diukur melalui pre-test dan post-test yang diikuti 50 guru TK dan SD Yayasan Ash Shiddiiqi Jambi dengan 15 butir soal.

Hasil pre-test menunjukkan rata-rata nilai peserta mencapai 13,64 dari 15 soal atau 90,93 pada skala 100. Setelah mengikuti pelatihan dan praktik langsung, rata-rata nilai post-test meningkat menjadi 13,96 dari 15 soal atau 93,07.
Peningkatan juga terlihat pada sejumlah soal yang sebelumnya memiliki tingkat kesalahan lebih tinggi. Pada soal nomor 5, 8, 10 dan 12, jumlah guru yang menjawab benar meningkat hingga 47 orang.

Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti rangkaian pelatihan. Selain aspek konseptual, para guru juga dinilai mampu mengembangkan draf RPPH/RPP dan media pembelajaran interaktif berbasis Gemini AI secara lebih mandiri.

AI Ditekankan sebagai Alat Bantu Guru

Dalam pelatihan, tim pengabdian juga menekankan aspek etika penggunaan AI. Guru diingatkan untuk memverifikasi informasi yang dihasilkan AI, menjaga privasi data siswa serta memperhatikan hak cipta.

AI juga ditegaskan sebagai alat bantu bagi pendidik, bukan sebagai pengganti guru dalam proses pembelajaran.

Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelatihan. Tim pengabdian merekomendasikan agar Yayasan Ash Shiddiiqi Jambi mengintegrasikan pemanfaatan Gemini AI dalam rutinitas penyusunan bahan ajar dan evaluasi pembelajaran.

“Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini secara nyata berhasil meningkatkan literasi dan keterampilan teknis guru TK dan SD di Yayasan Ash Shiddiiqi Jambi dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, khususnya Gemini AI. Perubahan signifikan terlihat dari kondisi sebelum pelatihan saat para guru masih bergantung pada metode konvensional dan pembuatan bahan ajar manual yang memakan waktu lama, menjadi mampu menyusun prompt secara efektif serta menghasilkan draf RPPH/RPP dan media pembelajaran interaktif secara mandiri dan efisien sesudah kegiatan,” ujar Tri Suranto.

Baca juga :  UNJA Dorong Hilirisasi Produk Pertanian Lokal, Bantu UMKM U.D Annis Tingkatkan Produksi dan Transformasi Digital

Selain itu, para guru didorong membentuk komunitas praktisi untuk berbagi prompt, pengalaman dan inovasi pembelajaran berbasis AI. Pengembangan pelatihan lanjutan serta penyusunan panduan etika internal juga menjadi salah satu rekomendasi untuk memastikan pemanfaatan AI berlangsung secara aman dan berkelanjutan.