WartaPendidikan.co.id, Labuan Bajo – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Manggarai Barat (Mabar) melakukan langkah progresif di dunia pendidikan dengan mengusung gerakan “Revolusi Hijau”. Lewat gerakan ini, Kemenag Mabar menjadikan ekoteologi sebagai ruh pendidikan di seluruh madrasah yang ada di wilayah tersebut.
Konsep ekoteologi ini mengintegrasikan nilai-nilai spiritual keagamaan dengan kesadaran ekologis. Siswa tidak hanya diajarkan cara beribadah kepada Tuhan, tetapi juga memahami bahwa menjaga kelestarian alam adalah bagian dari iman dan kewajiban agama.
Langkah ini dinilai sangat strategis, mengingat Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo, merupakan destinasi wisata super prioritas yang sangat bergantung pada kelestarian ekosistem alamnya.
“Kita ingin ekoteologi ini menjadi ruh pendidikan di madrasah. Siswa harus sadar bahwa merusak alam berarti mencederai nilai-nilai ketuhanan,” ujar pihak Kemenag Manggarai Barat dalam keterangannya.
Penerapan Nyata di Lingkungan Madrasah Implementasi Revolusi Hijau ini tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas. Madrasah-madrasah di Manggarai Barat didorong untuk menciptakan lingkungan sekolah yang asri melalui penanaman pohon, pengelolaan sampah mandiri, hingga pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di area sekolah.
Kemenag Mabar ingin madrasah menjadi contoh atau role model bagi masyarakat sekitar dalam hal kepedulian lingkungan. Kurikulum keagamaan pun kini lebih banyak menyelipkan pesan-pesan konservasi alam sebagai bentuk aplikasi nyata dari ajaran agama.
Cetak Generasi Penjaga Alam Kemenag menilai, menanamkan kesadaran ekologis sejak dini sangat krusial untuk menghadapi tantangan perubahan iklim. Dengan pemahaman ekoteologi, lulusan madrasah diharapkan menjadi agen perubahan yang aktif menjaga keindahan alam Labuan Bajo dari ancaman kerusakan.
“Kita sedang mencetak generasi yang punya kepekaan ganda: saleh secara spiritual dan saleh secara sosial-lingkungan,” tambahnya.
Dukungan untuk Pariwisata Berkelanjutan Gerakan ini juga menjadi bentuk dukungan nyata sektor pendidikan terhadap industri pariwisata berkelanjutan di NTT. Dengan lingkungan yang terjaga, daya tarik wisata Manggarai Barat akan tetap lestari untuk generasi mendatang.
Sinergi antara tokoh agama, guru, dan siswa diharapkan dapat mempercepat terciptanya budaya “hijau” di tengah masyarakat Labuan Bajo yang terus berkembang pesat.
Harapan untuk Masa Depan Kemenag Manggarai Barat berharap program ekoteologi ini bisa terus dikembangkan dan diadopsi oleh lebih banyak lembaga pendidikan lainnya. Revolusi Hijau dari madrasah ini diharapkan mampu menciptakan dampak bola salju bagi kelestarian lingkungan di Bumi Komodo.
“Mari kita jadikan madrasah sebagai pusat perubahan, di mana doa-doa kita seiring sejalan dengan tindakan nyata menanam dan merawat bumi,” pungkasnya.



Leave a Reply