WARTAPENDIDIKAN.CO.ID, BATANGHARI – Pembelajaran matematika di sekolah dasar tak selalu harus berlangsung dengan cara yang abstrak. Guru SDN 76/I Sungai Buluh, Kabupaten Batang Hari, Jambi, mendapat pelatihan untuk mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup ke dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan Eco-Mathematics.

Pelatihan bertajuk “Transformasi Literasi Numerasi Melalui Eco-Mathematics” tersebut digelar pada Rabu (26/8/2026). Kegiatan diikuti jajaran pendidik, baik guru kelas maupun guru bidang studi.

Melalui pendekatan ini, guru dilatih memanfaatkan persoalan, kondisi, dan objek lingkungan di sekitar sekolah sebagai media pembelajaran matematika. Konsep tersebut diharapkan membuat pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Violita Zahyuni, S.Pd., M.Pd., mengatakan Eco-Mathematics dirancang untuk mengubah cara pandang terhadap matematika sekaligus menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sejak dini.

“Matematika sering kali dianggap sebagai subjek yang kaku dan lepas dari realitas siswa. Melalui pendekatan Eco-Mathematics, kami ingin menunjukkan bahwa konsep numerasi dapat dipelajari secara menyenangkan melalui fenomena alam dan lingkungan sekitar,” ujar Violita.

Menurutnya, pelatihan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan numerasi siswa. Para guru juga didorong agar mampu menyusun perangkat pembelajaran yang kontekstual sehingga pembelajaran numerasi berjalan beriringan dengan pembentukan kesadaran menjaga lingkungan.

Guru Belajar Matematika dari Lingkungan Sekitar

Dalam praktiknya, lingkungan sekolah dapat menjadi sumber belajar bagi guru untuk mengajarkan berbagai konsep matematika.

Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya berhadapan dengan angka dan rumus di dalam kelas. Persoalan yang ditemukan di lingkungan sekitar dapat diolah menjadi bahan pembelajaran yang lebih interaktif dan relevan.

Penerapan Eco-Mathematics juga diharapkan mendorong guru untuk menciptakan suasana belajar yang kreatif dan adaptif.

Baca juga :  Diskusi Rabuan di Jambi Bahas Program SMA Unggul Garuda Transformasi, Komisi Informasi Dukung Inisiatif Gubernur

Kepala SDN 76/I Sungai Buluh, Asiarty Muslim, S.Pd.,Gr., mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut. Ia menilai kegiatan itu memberikan wawasan baru yang praktis bagi para guru dalam mengemas pembelajaran matematika.

“Kami sangat bersyukur dan menyambut baik kehadiran tim pengabdian di sekolah kami. Pelatihan ini memberikan wawasan baru yang sangat praktis bagi para guru kelas maupun bidang studi dalam mengemas pembelajaran matematika menjadi lebih hidup,” kata Asiarty.

Ia mengatakan, melalui metode tersebut siswa tidak hanya belajar berhitung, tetapi juga diajak mengenal dan mencintai lingkungan.

Pihak sekolah pun menyatakan komitmennya untuk menerapkan metode Eco-Mathematics secara konsisten dalam pembelajaran di kelas.

Tingkat Pemahaman Peserta Capai 96 Persen

Program Eco-Mathematics tersebut kemudian dipublikasikan dalam Journal of Human and Education (JAHE). Dalam publikasi tersebut disebutkan kegiatan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), mulai dari sosialisasi dan observasi lingkungan, workshop integrasi kurikulum, pendampingan pembuatan modul dan alat peraga, hingga uji coba pembelajaran di kelas.

Hasil evaluasi menunjukkan tingkat pemahaman materi peserta mencapai rata-rata 96 persen. Sementara tingkat kepuasan peserta terhadap pelaksanaan kegiatan tercatat 99,5 persen dan masuk kategori sangat puas.

Tim pengabdian menyimpulkan pendekatan Eco-Mathematics dapat mengoptimalkan lingkungan sekolah sebagai media belajar sekaligus meningkatkan kepercayaan diri guru dalam merancang pembelajaran, termasuk pembelajaran di luar kelas.

Melalui pelatihan tersebut, para guru SDN 76/I Sungai Buluh diharapkan terus mengembangkan pembelajaran matematika yang kreatif, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter siswa yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. (Rilis)