WartaPendidikan.co.id, Merauke – Masalah pendidikan di wilayah Indonesia Timur kembali menjadi sorotan. Data terbaru menunjukkan angka anak tidak sekolah (ATS) di Provinsi Papua Selatan mencapai jumlah yang cukup memprihatinkan, yakni menembus angka lebih dari 38 ribu anak.

Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah provinsi baru tersebut dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Bumi Cenderawasih. Data ini mencakup anak-anak usia sekolah yang belum pernah mengenyam pendidikan maupun mereka yang putus di tengah jalan.

“Berdasarkan pendataan, jumlah anak tidak sekolah di Papua Selatan saat ini mencapai 38 ribu lebih. Ini merupakan angka yang harus kita sikapi dengan serius dan cepat,” tulis laporan tersebut mengutip sumber terkait.

Faktor Geografis dan Ekonomi Banyaknya anak yang tidak sekolah di wilayah ini diduga kuat dipicu oleh kombinasi faktor geografis yang sulit serta kondisi ekonomi keluarga. Jarak antara tempat tinggal warga di pedalaman dengan fasilitas pendidikan yang tersedia seringkali menjadi kendala utama bagi anak-anak untuk berangkat sekolah.

Selain itu, terbatasnya jumlah tenaga pendidik yang bersedia ditempatkan di wilayah terpencil turut memperparah akses pendidikan bagi anak-anak di empat kabupaten di Papua Selatan.

Pemerintah Siapkan Langkah Strategis Menanggapi fenomena ini, Pemerintah Provinsi Papua Selatan melalui instansi terkait tengah menyusun strategi khusus untuk menjemput bola. Salah satu fokus utama adalah penguatan program pendidikan non-formal dan pemberian bantuan bagi keluarga kurang mampu.

“Kami sedang memetakan sebaran anak-anak tersebut agar bantuan dan program intervensi pendidikan bisa tepat sasaran. Target kita adalah menurunkan angka ini secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan,” tegasnya.

Perlunya Sinergi Lintas Sektor Persoalan ini dinilai tidak bisa diselesaikan oleh sektor pendidikan saja. Perlu ada sinergi dengan dinas sosial, tokoh adat, hingga tokoh agama untuk memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai pentingnya pendidikan bagi masa depan anak.

Baca juga :  Rektor UIN STS Jambi Umumkan Kebijakan Menjelang Idulfitri 1446 H, Termasuk Hibah Mobil untuk Pesantren

Pemerintah juga berencana mengoptimalkan pemanfaatan dana otonomi khusus (Otsus) untuk membangun sekolah berpola asrama. Pola ini dianggap paling efektif untuk mengatasi kendala jarak bagi siswa yang tinggal di pelosok Papua Selatan.

Mengejar Ketertinggalan Dengan angka yang mencapai 38 ribu lebih, Papua Selatan kini berpacu dengan waktu untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang layak sebagaimana diamanatkan undang-undang. Upaya ini menjadi kunci agar pembangunan di provinsi bungsu tersebut dapat berjalan beriringan dengan kesiapan kualitas manusianya.